Judul tersebut adalah judul buku karangan John Mc Cain (Senator A.S yang juga Capres yang dikalahkan oleh Obama) dan Mark Salter.
Saya kutipkan sedikit dari kata pendahuluannya.
Kita bukan dilahirkan untuk menjadi sesuatu yang telah ditentukan, begitu saja mengikuti rencana perjalanan yang telah ditentukan oleh tangan gaib, atau tanpa daya ditarik bintang-bintang ke arah tertentu, kemudian mendatangkan kebahagiaan bagi sebagian orang dan kemalangan bagi orang lain.
Karakter kita akan menentukan hidup (nasib) kita
Tuhan memberi kita hidup, menunjukkan cara memanfaatkannya, tetapi membiarkan kita menyia-nyiakannya jika mau begitu. Karakter akan menentukan seberapa baik dan buruk pilihan kita.
Gagasan menulis tentang karakter muncul ketika kemarin (11 April 2009), sahabat saya menanyakan apakah setiap wira-usahawan bisa disebut sebagai entrepreneur.
Pertanyaan ini adalah salah satu topik obrolan sepanjang perjalanan dari Pondok Indah, menghadiri reuni Angkatan 15 (74) di lantai 30 Plasa Bumi Daya dan berakhir ngobrol sambil ngopi di Daily Bread cafe di Pondok Indah Mall. Dari jam 10.30 sampai dengan jam 16.30.
Topik tersebut menjadi sangat menarik setelah saya mengamati teman-teman kuliah yang rata-rata berumur 53 s/d 55 tahun.
Walaupun hanya dihadiri oleh 16 orang dari sekitar 140 orang angkatan 15, tetapi saya bisa melihat dengan jelas bahwa ada korelasi yang logis antara karakter dan capaian prestasi mereka selama 30 tahun selepas kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Elektro Universitas Trisakti.
Sampai di rumah saya masih mencoba merenungkan apa jawaban yang paling tepat dari pertanyaan sahabat saya tersebut, sambil mengingat kembali meriahnya obrolan dengan teman-teman seangkatan.
Sebuah "blink" tiba-tiba muncul, tidak semua wira-usahawan bisa mempunyai predikat sebagai entrepreneur.
Seorang wira-usaha bisa disebut sebagai seorang entrpreneur, "jika dan hanya jika" dia memiliki karakter seorang entrepreneur.
Blog ini berisi pemikiran Buntoro dalam menyikapi berbagai perkembangan aktual dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya di tanah air. Sikap (pola pikir dan pola tindak) yang tepat akan sangat menentukan tercapainya sebuah cita2.
Minggu, 12 April 2009
Minggu, 05 April 2009
entrepreneur : To see the unseen (4)
Rangkaian 3 buah tulisan tentang entrepreneur sejatinya saya tujukan untuk menjelaskan bahwa menjadi entrepreneur pada hakekatnya adalah panggilan jiwa.
Hanya orang yang mampu memberikan arti (esensi) dari apa yang dialaminya (bangun pagi, mengumpulkan sisa minyak goreng dan menimba air) saja yang bisa mengambil manfaat untuk menggunakannya sebagai fondasi (mile-stone) bagi perjalanan hidupnya kelak.
Dalam keluarga saya, pengalaman masa remaja tersebut bukanlah monopoli saya sendiri. Adik-adik saya pun mengalami hal yang hampir sama, walaupun tentunya dengan intensitas yang berbeda.
Tetapi, nyatanya hanya saya saja dari 8 bersaudara yang memilih entrepreneur sebagai jalan hidup.
Melihat kenyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, asal-usul (keturunan) dan lingkungan hidup semasa usia remaja atau pun pemuda, tidak secara pasti menentukan apakah seseorang kelak bisa menjadi seorang entrepreneur.
Ayub dalam mengomentari To see the unseen (1) menanyakan bagaimana seorang ayah menjelaskan kepada anaknya yang masih berusia 13 - 16 tahun dan anaknya mau menaatinya. Trust, ya hanya trust saja jawaban yang pas.
Tulisan ini juga ditujukan untuk memberikan inspirasi bagaimana menjawab tantangan untuk mencari (melahirkan) 4.000.000 entrepreneur (baru) yang dibutuhkan oleh Indonesia sebagai prasyarat bagi terjadinya sustainable growth menuju negara Industri.
Diperlukan intrepreneur-intrepreneur yang mau menjadi mentor. Mentor yang memiliki kredibilitas sehingga bisa dipercaya (mendapatkan trust) para calon entrepreneur yang dibimbingnya untuk menjadi seorang entrepreneur.
Jaman telah berubah, entrepreneur seperti saya yang lebih tepat disebut sebagai "entrepreneur nobody's child, yang Just like a flower, growing wild" sudah semakin sulit untuk diharapkan akan muncul.
Tuntutan jaman dan lingkungan membuat orang menjadi tidak sabar sehingga kehilangan kepekaan atas berbagai oportuniti yang lewat dihadapannya serta malas atau tidak punya waktu untuk terus belajar.
Bila saja ada kesadaran dari setiap 400.000 entreprenur yang ada saat ini untuk mau menjadi mentor, maka hanya dengan menjadi mentor bagi 10 orang calon entrepreneur, suatu saat kebutuhan (lowongan) 4.000.000 entrepreneur baru akan bisa terpenuhi.
God bless Indonesia.
Hanya orang yang mampu memberikan arti (esensi) dari apa yang dialaminya (bangun pagi, mengumpulkan sisa minyak goreng dan menimba air) saja yang bisa mengambil manfaat untuk menggunakannya sebagai fondasi (mile-stone) bagi perjalanan hidupnya kelak.
Dalam keluarga saya, pengalaman masa remaja tersebut bukanlah monopoli saya sendiri. Adik-adik saya pun mengalami hal yang hampir sama, walaupun tentunya dengan intensitas yang berbeda.
Tetapi, nyatanya hanya saya saja dari 8 bersaudara yang memilih entrepreneur sebagai jalan hidup.
Melihat kenyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya, asal-usul (keturunan) dan lingkungan hidup semasa usia remaja atau pun pemuda, tidak secara pasti menentukan apakah seseorang kelak bisa menjadi seorang entrepreneur.
Ayub dalam mengomentari To see the unseen (1) menanyakan bagaimana seorang ayah menjelaskan kepada anaknya yang masih berusia 13 - 16 tahun dan anaknya mau menaatinya. Trust, ya hanya trust saja jawaban yang pas.
Tulisan ini juga ditujukan untuk memberikan inspirasi bagaimana menjawab tantangan untuk mencari (melahirkan) 4.000.000 entrepreneur (baru) yang dibutuhkan oleh Indonesia sebagai prasyarat bagi terjadinya sustainable growth menuju negara Industri.
Diperlukan intrepreneur-intrepreneur yang mau menjadi mentor. Mentor yang memiliki kredibilitas sehingga bisa dipercaya (mendapatkan trust) para calon entrepreneur yang dibimbingnya untuk menjadi seorang entrepreneur.
Jaman telah berubah, entrepreneur seperti saya yang lebih tepat disebut sebagai "entrepreneur nobody's child, yang Just like a flower, growing wild" sudah semakin sulit untuk diharapkan akan muncul.
Tuntutan jaman dan lingkungan membuat orang menjadi tidak sabar sehingga kehilangan kepekaan atas berbagai oportuniti yang lewat dihadapannya serta malas atau tidak punya waktu untuk terus belajar.
Bila saja ada kesadaran dari setiap 400.000 entreprenur yang ada saat ini untuk mau menjadi mentor, maka hanya dengan menjadi mentor bagi 10 orang calon entrepreneur, suatu saat kebutuhan (lowongan) 4.000.000 entrepreneur baru akan bisa terpenuhi.
God bless Indonesia.
entrepreneur : To see the unseen (3)
Salah satu kebiasaan penting yang membekas dan berlanjut sampai dengan saat ini adalah kebiasaan bangun pagi.
Kebiasaan tersebut semakin menemukan esensinya bila dikaitkan dengan nasihat nenek saya yang setiap saat menganjurkan agar saya bangun pagi, bangun sebelum ayam berkokok, agar supaya rejeki yang diperuntukan bagi saya tidak didahului dipatuk oleh ayam-ayam yang setiap pagi mencari makan.
Sampai dengan saat ini, saya setiap hari masih bangun tidur pada pukul 4.30. Berangkat dari rumah ke kantor pada pukul 5.20 dan tepat pukul 6.00 saya tiba di kantor.
Dengan kebiasaan tersebut, sepanjang perjalanan saya tune-in radio Elshinta yang me-relay BBC London untuk mendengarkan berita-berita dunia, termasuk berita ekonomi, politik, olah raga, pelajaran bahasa Inggris dan kutipan head-line koran-koran yang terbit hari itu di Indonesia.
Seringkali, apabila lalu-lintas ramai dan pada pukul 6.00 belum tiba di kantor, saya masih sempat tune-in radio Heart-line untuk mendengarkan khotbah Pendeta Gilbert Lumoindong atau sedikitnya mendengarkan kata pengantarnya : "Kebahagiaan bukan karena mendapatkan apa yang tidak kita miliki tetapi kebahagiaan adalah mensyukuri apa yang sudah kita miliki". Sebuah kalimat yang hampir setiap pagi mengingatkan saya untuk selalu memikirkan apa yang bisa saya lakukan dengan apa yang saya miliki untuk kepentingan sesama.
Sesampai di kantor, saya tune-in SCTV yang menyiarkan Liputan-6 pagi untuk mendengarkan berita-berita dalam negeri sambil saya menikmati kopi dan membaca Media Indonesia, Sindo, Rakyat Merdeka dan Bisnis Indonesia. Liputan-6 pagi selesai pukul 6.30 dan dilanjut dengan "was-was" sampai dengan pukul 7.30, bertepatan dengan saat saya selesai membaca 4 koran tersebut.
Selesai menjalankan semua rangkaian ritual pagi tersebut, saya mulai bekerja dengan bekal hampir semua informasi yang terjadi selama 12 jam terakhir, termasuk infotaintment sebagai sumber inspirasi yang up to date untuk membuat berbagai keputusan bisnis.
Kebiasaan tersebut semakin menemukan esensinya bila dikaitkan dengan nasihat nenek saya yang setiap saat menganjurkan agar saya bangun pagi, bangun sebelum ayam berkokok, agar supaya rejeki yang diperuntukan bagi saya tidak didahului dipatuk oleh ayam-ayam yang setiap pagi mencari makan.
Sampai dengan saat ini, saya setiap hari masih bangun tidur pada pukul 4.30. Berangkat dari rumah ke kantor pada pukul 5.20 dan tepat pukul 6.00 saya tiba di kantor.
Dengan kebiasaan tersebut, sepanjang perjalanan saya tune-in radio Elshinta yang me-relay BBC London untuk mendengarkan berita-berita dunia, termasuk berita ekonomi, politik, olah raga, pelajaran bahasa Inggris dan kutipan head-line koran-koran yang terbit hari itu di Indonesia.
Seringkali, apabila lalu-lintas ramai dan pada pukul 6.00 belum tiba di kantor, saya masih sempat tune-in radio Heart-line untuk mendengarkan khotbah Pendeta Gilbert Lumoindong atau sedikitnya mendengarkan kata pengantarnya : "Kebahagiaan bukan karena mendapatkan apa yang tidak kita miliki tetapi kebahagiaan adalah mensyukuri apa yang sudah kita miliki". Sebuah kalimat yang hampir setiap pagi mengingatkan saya untuk selalu memikirkan apa yang bisa saya lakukan dengan apa yang saya miliki untuk kepentingan sesama.
Sesampai di kantor, saya tune-in SCTV yang menyiarkan Liputan-6 pagi untuk mendengarkan berita-berita dalam negeri sambil saya menikmati kopi dan membaca Media Indonesia, Sindo, Rakyat Merdeka dan Bisnis Indonesia. Liputan-6 pagi selesai pukul 6.30 dan dilanjut dengan "was-was" sampai dengan pukul 7.30, bertepatan dengan saat saya selesai membaca 4 koran tersebut.
Selesai menjalankan semua rangkaian ritual pagi tersebut, saya mulai bekerja dengan bekal hampir semua informasi yang terjadi selama 12 jam terakhir, termasuk infotaintment sebagai sumber inspirasi yang up to date untuk membuat berbagai keputusan bisnis.
Langganan:
Postingan (Atom)