Kamis, 14 Agustus 2014




Smart and Sincere

is an option for small and medium entrepreneurs to break through various obstacles in developing a business


Setiap kali kita membahas tentang usaha kecil dan menengah senantiasa muncul 2 hal utama, yaitu: 
  1. Terbatasnya permodalan 
  1. Sulitnya akses pasar 
  1. SDM yang tidak memadai
Ketiga hal tersebut bukan saja muncul sebagai persoalan utama di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara, baik itu negara maju maupun negara berkembang.
Perbedaannya, di negara maju kedua hal tersebut dianggap sebagai persoalan profesional dan ada banyak pilihan untuk mengatasinya. 
Sedangkan di negara-negara berkembang persoalan tersebut dianggap sebagai penghalang yang semestinya tidak ada, yang diciptakan atau tercipta akibat sistim atau kondisi umum ekonomi sebuah negara.

Tulisan ini ditujukan untuk memberikan jalan (alternative) bagi para pengusaha kecil dan menengah di Indonesia (atau negara berkembang lainnya), dengan meminjam cara-cara yang digunakan oleh rekan-rekannya di negara maju.


S i k a p (attitude)
Segala sesuatu berawal dari sikap (attitude).
Jarang sekali seorang pengusaha atau calon pengusaha yang menyadari bahwa persoalan yang dihadapinya pada dasarnya bersumber pada sikap pengusaha kecil dan menengah itu sendiri.
Sebagian pengusaha bahkan tidak punya sikap sama sekali dan sebagian pengusaha punya sikap tapi keliru.
Dari fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa kebanyakan calon pengusaha dan pengusaha menjalankan usahanya bukan karena panggilan jiwa. Tetapi banyak karena: 
  1. Merasa bisa menjadi pengusaha
  1. Merasa memiliki sesuatu yang bernilai ekonomi (harta karun) yang bisa dijadikan sebagai modal usaha 
  1. Tidak ada pilihan lain.

3 - S i k a p penting
Dari pengamatan pengalaman penulis sedikitnya ada 3 sikap penting yang semestinya ada pada seorang pengusaha, terutama pengusaha kecil dan menengah: 
  1. Integrity
  1. Humility 
  1. Generousity
Dari berbagai interaksi dengan berbagai mitra asing dari berbagai negara maju, ketiga sikap tersebut terlihat sebagai sesuatu yang melekat (built-in) yang ditampilkan dalam memandang dan menyelesaikan berbagai persoalan.

Buku dengan judul Smart & Sincere yang ditulis oleh Prof. Sammy Kristamulyana secara tidak langsung menguraikan berbagai hal yang merupakan kiat-kiat dari banyak usaha besar di berbagai negara maju yang bermuara pada ketiga sikap tersebut di atas.

Pengalaman penulis dalam mengembangkan sebuah industri dari tingkatnya yang paling sederhana (kecil) sampai dengan mencapai tingkat perusahaan kelas dunia dalam kurun waktu lebih dari 20 tahun, telah memberikan bukti bahwa dengan memegang teguh ketiga sikap tersebut dalam menjalankan usaha, segala sesuatunya berjalan dengan baik dan relatif mudah.
Ketiga persoalan tersebut di atas (modal, pasar dan SDM) hampir-hampir tidak pernah dijumpai sepanjang perjalanan penulis membesarkan industri Peralatan Rumah Sakit di Indonesia.
Tanpa sikap yang benar maka mustahil sebuah usaha dikembangkan dengan tingkat pertumbuhan 30% dalam kurum waktu lebih dari 20 tahun.

Mulai menulis lagi

Ternyata tidak mudah untuk mengembalikan semangat menulis.
Bukan karena kehabisan ide atau ketiadaan hal penting untuk ditulis, tapi mungkin karena kehilangan motivasi atau ketiadaan waktu yang mesti disediakan untuk membuat sebuah tulisan yang bermutu dan menginspirasi bagi para pembacanya.
Tetapi apapun penyebabnya menjadi tidak penting lagi karena hari ini saya membulatkan tekad untuk kembali menulis.

Senin, 23 Januari 2012

Motor Bebek Khas Yogyakarta

Januari 11, 2012

motor andalan kita di indonesiaproud wordpress com
(http://indonesiaproud.wordpress.com/2012/01/11/mak-motor-bebek-khas-yogyakarta/)

Keputusan Wali Kota Solo Joko Widodo mengganti mobil dinasnya, Toyota Camry, dengan mobil Kiat Esemka buatan siswa SMKN 2 Solo menjadi buah bibir tak hanya di wilayah Jawa Tengah, tapi juga di tingkat nasional.

Keputusan itu dicela oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo karena mobil rakitan tersebut belum mengantongi izin kelayakan dan keselamatan.

Meski Kiat Esemka sudah banyak dipesan, pemilik mobil rakitan itu masih harus menunggu hingga kendaraan produk lokal tersebut bebas meluncur di jalan raya. Namun, bila sudah tak sabar ingin mencicipi rasa kendaraan lokal, mereka bisa menjajal MAK, sepeda motor produk lokal yang sudah dirilis sejak dua tahun lalu.

Sepeda motor bebek bermerek MAK, yang disingkat dari Motor Andalan Kita, adalah sepeda motor buatan Buntoro, pemilik PT Mega Andalan Motor Industri (PT MAMI) di Yogyakarta. Sepeda Motor itu diluncurkan bertepatan pada Hari Pahlawan, 10 November 2009.

Sepeda motor jenis bebek itu hasil rancangan Buntoro sendiri. Sejak 2006, dia berkutat dengan kertas rancangan mesin dan menerjemahkannya menjadi komponen kendaraan. Sebanyak 30 persen komponen dibuat sendiri oleh perusahaannya, sedangkan 40 persen komponen lainnya dibeli dari industri dalam negeri.

Sisanya, memang masih impor, termasuk mesin yang dicetak di Cina. Maklum saja, perusahaannya belum memiliki kemampuan mencetak mesin. Namun dia menjamin rancangan mesin sepeda motor berasal dari perusahaannya. Bahkan mulai tahun ini PT MAMI berencana memproduksi sendiri mesin kendaraan roda dua itu.

Tak Bergantung pada Komponen Impor
Sepeda Motor MAK (Motor Andalan Kita) buatan Buntoro menjadi contoh industri otomotif yang lahir dari tangan inovatif orang Indonesia. Ketergantungan terhadap komponen dari luar negeri bisa ditekan.

Untuk mendukung kebutuhan komponen sepeda motor tersebut, Buntoro memiliki pabrik perakitan dan pembuatan suku cadang MAK, yang menjadi pusat inovasi teknologi perusahaan. Pabrik ini berada di Jalan Raya Prambanan-Piyungan Kilometer 5,5, Yogyakarta, bangunan setinggi tiga lantai ini menjadi tempat berkarya 100 orang Indonesia dalam membuat suku cadang dan merakit kendaraan roda dua.

“Kapasitas produksi saat ini mencapai 60 ribu unit per tahun,” ujar Direktur PT Mega Andalan Motor Industri (PT MAMI) Dimas Prasetya kepada Tempo, Jumat lalu.

Jumlah komponen yang dibuat di pabrik di Yogyakarta ini mencapai 30 persen dari seluruh komponen MAK. Komponen buatan sendiri ini, antara lain knalpot, bingkai sepeda motor, tangki bensin, body cover, dan pengecatan. Secara keseluruhan, 30 persen komponen MAK berasal dari pabrik sendiri.

Sebanyak 40 persen komponen lainnya didatangkan dari berbagai industri lokal yang tersebar di sekitar Yogyakarta. Tangan terampil dalam negeri ternyata sudah bisa menghasilkan berbagai komponen sepeda motor, seperti suspensi, rem, pelek, lampu, komponen elektronik, aki, gigi roda, dan stiker.

Komponen impor ikut menyumbang 30 persen sepeda motor MAK. Sistem transmisi, mesin, dan kopling masih harus didatangkan dari luar negeri. Namun kabar menggembirakan datang tahun ini, ketika perusahaan mulai membuat sendiri mesin kendaraan. Akibatnya, proporsi komponen bikinan luar negeri akan menyusut.

Walaupun sebagian komponen masih impor dari Negeri Tirai Bambu, MAK bukanlah sepeda motor merek Cina yang beberapa tahun lalu ramai-ramai dibeli masyarakat. Menurut Dimas, sepeda motor Cina menerapkan impor 100 persen komponen dari Negeri Tirai Bambu tersebut, lalu dirakit oleh pekerja di Indonesia. Sistem ini disebut completely knock down. Sedangkan dua sepeda motor MAK, yang kini beredar di masyarakat, memiliki komponen impor tak melampaui 30 persen.

PT MAMI memiliki standar tinggi untuk pembuatan mesin. Agar bisa dipasang di kendaraan, mesin harus sanggup bertahan sejauh 30 ribu kilometer. “Mesin MAK tidak cepat rusak dan kami terus melakukan perbaikan,” kata dia.

Mesin MAK sendiri bisa digenjot hingga kecepatan maksimal 95 kilometer per jam untuk mesin berkapasitas 100 cc. Sedangkan kecepatan lebih tinggi, yaitu sebesar 105 kilometer per jam bisa, dicapai dengan menggunakan mesin berkapasitas 125 cc.

Hambatan dan Masalah
Buntoro yakin kemampuan yang dimiliki orang Indonesia sudah memadai untuk masuk ke dalam industri sepeda motor. “Memproduksi sepeda motor adalah konsekuensi logis dari capaian prestasi dan kompetisi kami,” ujar Buntoro.

Sama seperti apa yang dialami para siswa dan guru SMK Solo dalam mengembangkan mobil Esemka, Buntoro juga banyak menghadapi masalah. Ada saja hambatan yang ditemui selama bereksperimen dengan sepeda motor bikinan sendiri. Dari sisi internal perusahaan, rendahnya kompetisi pekerja kerap menjadi kendala. Namun hal ini bisa diatasi seiring dengan berjalannya waktu.

Batu sandungan juga datang dari pemerintah. Menurut alumnus Teknik Elektro Universitas Trisakti ini, regulasi yang dikeluarkan pemerintah jelas-jelas tak berpihak kepada industri sepeda motor nasional. Malahan ia melihat terjadinya proteksi atas produk sepeda motor yang sudah ada.

Ceruk dan Pemasaran
mak di indonesiaproud wordpress comCatatan yang dimiliki menunjukkan ceruk bisnis sepeda motor senilai Rp 70 triliun pada 2011 masih dikuasai oleh Honda dan Yamaha sebanyak 91 persen. Sedangkan sisanya, 8 persen, diperebutkan oleh Suzuki dan Kawasaki. Sisa pasar sebanyak 1 persen harus diperebutkan oleh produsen lokal dan India.

Pada 2008, sepeda motor Buntoro sebenarnya sudah siap pakai. Namun, demi memastikan kualitas, ia menjajal kemampuan sepeda motor tersebut dengan menempuh jarak sejauh 30 ribu kilometer. Pengujian dilakukan selama setahun.

Jurnal harian dibuat untuk mencatat berbagai kekurangan yang ditemui selama test drive. Setelah benar-benar yakin kualitas sepeda motor yang dihasilkan layak jalan, dua varian Vipros bikinan MAK diluncurkan pada akhir 2009, yaitu Vipros X 100 CW dan Vipros X 125 CW.

“Kami berani memberikan garansi, termasuk suku cadang, selama tiga tahun atau 30 ribu kilometer,” ujar pria kelahiran Purbalingga ini berpromosi.

Bodi MAK dibuat lebih besar, sehingga menampilkan kesan kokoh. Aksesori lain yang diberikan pada sepeda motor yang dilego seharga Rp 9 jutaan ini adalah pelek sporty dan knalpot dengan pelindung panas.

Pelanggan semakin dimanja oleh layanan pembiayaan, purnajual, bahkan garansi beli balik. Atas alasan kepuasan pelanggan pula ia memfokuskan penjualan Vipros hanya di Provinsi Yogyakarta.

Angka penjualan Vipros masih terlalu mini dibanding penjualan sepeda motor buatan produsen Jepang yang melampaui 4 juta unit pada 2011. Meski penjualan MAK masih di bawah target 1.000 unit sepanjang tahun lalu, dia yakin sepeda motor lokal ini akan banyak diminati, sehingga perusahaan menaikkan target penjualan pada 2012 menjadi 3.000 unit.

General Manager PT Mami Fo Perdana, perusahaan yang memasarkan MAK, Hilman Rama Pratama, mengharapkan dukungan luas untuk mengkampanyekan sepeda motor lokal tersebut. Meski Bupati Sleman Sri Purnomo telah membeli sepeda motor tersebut, bahkan berpose dengan MAK dalam kampanye “Aman Berkendara” bagi masyarakat, belum ada arahan kebijakan tentang penggunaan sepeda motor lokal ini.

Dukungan pemerintah untuk mengkampanyekan sepeda motor buatan lokal ini sangat dibutuhkan. Sebab, saat ini masyarakat masih sangat bergantung pada produk sepeda motor buatan luar negeri. Padahal harga MAK jauh lebih murah dibanding sepeda motor dengan kualitas setara. Dua varian MAK, yaitu Vipros X 100 dan Vipros X 125, dijual seharga Rp 9,45 juta dan Rp 9,9 juta per unit.

“Jika ada pejabat yang bisa mengkampanyekan produk lokal untuk operasional pegawai negeri, itu sangat menolong kami,” kata Hilman.

Meski minim dukungan, Buntoro tetap optimistis. Tak sekadar menaikkan angka penjualan, inovasi terus berlanjut pada 2012. Selain mulai merintis pembuatan mesin sendiri, PT MAMI akan mengembangkan sejumlah komponen lain, seperti pelek dan knalpot.

Bagi Buntoro, industri pembuatan sepeda motor adalah upaya yang berkelanjutan. Semangat inilah yang ditanamkan melalui sepeda motor merek MAK. Mobil Kiat Esemka sebagaimana yang dikerjakan oleh siswa SMK dinilai tak lebih dari sebuah proyek pembelajaran oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tanpa ada jaminan keberlanjutan.

“Semangat kami jauh lebih besar dari siswa SMK tersebut,” kata finalis entrepreneur of the year 2007, Ernst & Young Award, itu.

Sumber: korantempo.com

Jumat, 17 Desember 2010

Pantas dan memantaskan diri

Kemarin saya menerima sms yang demikian bunyinya: Pak, saya pantas dan memantaskan diri jadi pemimpin majalah saya sendriri......(to be continued...:-)...), dari seseorang yang pada akhirnya memberanikan dirinya untuk membuat majalah yang dipimpinnya sendiri.
Bagi seorang wartawan yang masih tergolong muda (menjelang 30 tahun) dan relativ minim modal materi, keberanian tersebut termasuk jarang.
Saya sendiri tidak tahu pasti mana yang lebih banyak porsinya, apakah itu terjadi karena nekad, yakin, emosional (maklum masih muda), atau karena ketidak-tahuannya tentang dunia usaha?.


Beberapa kali saya baca sms tersebut sambil tersenyum, duduk di mobil sambil menghisap rokok dalam perjalanan ke Gajah Mada Plaza.
Pikiran saya melayang jauh ke masa muda saya.

Saat itu bulan Juli tahun 1979, umur saya belum genap 25 tahun, saya mengalami hal yang kurang lebih sama dengan sosok pengirim sms.
Saya dalam perjalanan menuju Bandara Halim Perdana Kusuma, diantar oleh om saya yang merangkap boss dan mentor untuk terbang ke Amerika atau tepatnya kota Austin di Texas.
Ini betul-betul perjalanan gila-gilaan. Tanpa bekal behasa Inggris yang memadai dan buta sama sekali tentang perjalanan ke luar nergeri, saya menerima tantangan untuk mengikuti sebuah training di tempat yang begitu jauh dan asing.


Tapi hal yang menarik dan tidak pernah saya lupakan, dan yang membuat saya kemarin tersenyum-senyum adalah ketika om saya menanyakan apakah saya sudah punya kartu nama dan beliau mau lihat.
Sungguh saya kaget setengah mati.
Dengan muka pucat serta perasaan yang bercampur aduk antara malu, takut dan menyesal, saya keluarkan kartu nama saya.

Sambil memegang kartu nama saya, pandangan om saya beberapa kali berpindah-pindah antara memandang wajah saya dengan kartu nama yang ada ditangannya.
Saya ingat benar ekspresi wajah om saya karena kita duduk berhadapan di kabin belakang Toyota Hardtop '75.
Akhirnya, sambil menarik napas panjang beliau bertanya: "Apakah kamu yakin dengann title director di kartu nama kamu?".
Lama baru saya menjawab: "Tidak, tapi saya akan berusaha keras untuk memantaskan diri saya".
Sepanjang jalan dari Jalan Gajah Mada (kantor om saya di sebelah Gajah Mada Plaza) saya mendengarkan kuliah beliau tentang bagaimana menjadi "pantas dan memantaskan diri" sebagai seorang direktur.
Kuliah tersebut diakhiri dengan :"good luck".

Many thanks buat om yang telah mengajarkan begitu banyak aspek kehidupan. May God Bless you always.

Minggu, 21 November 2010

Wirausaha tidak bisa dilatih

Terus terang saya sangat heran dengan kiprah beberapa pengusaha (Purdi, Ciputra dll), yang mendirikan pendidikan kewirauhaan hanya karena merasa dirinya berhasil (mendapat penghargaan) sebagai seorang pengusaha.

Keheranan saya didasarkan pada pengalaman saya dalam menjalankan usaha selama ini.
Dari apa yang saya alami serta dari hasil pengamatan terhadap banyak kegagalan orang dalam berusaha, dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan (entrepreneurship) adalah sebuah pemahaman atau kemampuan seseorang dalam memahami usahanya.
Berhasil atau gagalnya sebuah usaha sangat bergantung pada pemahaman seseorang tentang usaha yang dijalaninya.

Jadi mustahil kalau kewirausahaan bisa diajarkan di bangku sekolah sebagai sebuah teori.

Berikut ini adalah kutipan berita di harian Kompas:

Wirausaha Tidak Bisa Dilatih
Kamis, 18 November 2010 | 02:57 WIB

Jakarta, Kompas - Untuk menjalankan usaha sendiri, seseorang harus mempunyai karisma di dalam dirinya. Karisma ini hanya dimiliki orang-orang yang memiliki visi atau impian dan semangat yang luar biasa untuk mewujudkan impiannya itu.

Oleh karena itu, materi-materi ajar kewirausahaan di sekolah, terutama di sekolah menengah kejuruan dan politeknik, tak serta-merta akan menghasilkan wirausaha karena mereka tidak bisa dilatih atau dididik.

Hal itu dikemukakan ekonom dan pengusaha dari Amerika Serikat, Carl J Schramm, di Jakarta, Senin (15/6). ”Kita tidak bisa melatih seseorang untuk memiliki karisma. Ada orang-orang tertentu yang memiliki kepribadian senang dengan tantangan serta berani mengambil risiko dan inovatif dan gigih mewujudkan impiannya,” kata Schramm yang juga Presiden dan CEO Kauffman Foundation itu.

Yang bisa dilakukan, lanjut Schramm, adalah melatih atau mendidik seseorang yang memiliki bekal ide dan semangat atau bahkan sudah memulai usahanya sedikit demi sedikit untuk membuat rencana atau strategi usaha. Tujuannya, untuk mengurangi risiko kegagalan usahanya dan memastikan keberhasilan usaha. Jika memiliki rencana atau strategi usaha yang jelas, dipastikan usahanya pun akan berhasil.

Sekolah-sekolah kejuruan akan sangat berguna dalam hal itu. Tidak hanya itu. Para wirausaha yang sukses juga bisa berbagi ilmu dengan siswa di sekolah-sekolah kejuruan.

”Jadi, belum tentu semua orang bisa menjadi entrepreneur karena masih lebih banyak orang yang boro-boro memikirkan inovasi usaha, memikirkan mau makan apa hari ini saja sudah susah,” kata Schramm.

Menjadi seorang wirausaha yang sukses pun, kata Schramm, tidak perlu harus memulai usaha sejak usia muda. Selama ini banyak beredar anggapan keliru bahwa jika ingin sukses, seseorang harus memulai usaha sejak usia 19 atau 21 tahun. Jika tidak, tidak akan pernah berhasil menjadi wirausaha. ”Nyatanya, banyak orang yang memulai usaha justru ketika sudah pensiun,” ujarnya.

Schramm juga mengatakan, kewirausahaan harus dilakukan, bukan sekadar diajarkan. Pendidikan kewirausahaan memang perlu diperkenalkan di sekolah- sekolah untuk menginformasikan kepada siswa bahwa kewirausahaan itu penting dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

Schramm menambahkan, kewirausahaan juga untuk membentuk adanya keinginan di dalam diri seseorang untuk bekerja sendiri, bukan bekerja kepada orang lain. Sebab, negara memang butuh meningkatkan jumlah perusahaan-perusahaan baru guna mendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi.

Rabu, 27 Oktober 2010

Utamakan yang penting

Kemarin sore, di bawah rintik2 hujan kota Jakarta saya tune-in Smart FM Radiio.

Suara khas Prasetya M Brata sedang memprovokasi pendengar setia Smart FM. Dia menceritakan tentang pertikaian antara umat Islam dan Nasrani mengenai siapa yang akan dijadikan kurban oleh Nabi Ibrahim (Abraham). Apakah Ismail (versi Islam) ataukah Iskak (versi Nasrani)?. Sebuah pertikaian yang kelihatannya tak akan pernah berakhir.

Yang menarik adalah ketika ada orang bertanya apa pendapat Gus Dur tentang siapa yang benar, dengan enteng Gus Dur menjawab, "Gitu aja koq repot, yang penting dua2nya (Ismail ataupun Iskak) selamat".

Benar apa yang dipaparkan oleh Mas Pras, saat ini banyak orang yang lupa atau bahkan kehilangan kemampuan untuk melihat mana yang penting (esensial) dan mana yang sebetulnya hanya merupakan akibat dari terpenuhinya hal2 yang esensial tersebut.Pertikaian yang kontra produktiv berlarut-larut sehingga malah pokok perkaranya terlupakan.

Saya jadi teringat sebuah tulisan Gus Dur saat menjadi Presiden (10 tahun y.l). Beliau menyitir kata-kata Imam Syafei yang mengatakan "Ma ala yudraqu kuluhu lam yudraq juluhu". Yang artinya kira2 adalah "kalau tidak bisa mendapatkan semua, jangan lupakan yang pokok".

Gus Dur memang oke. Masih terasa kehangatan tubuhnya walau hanya sekali-kalinya saya menjadi tukang pijat beliau saat-saat menjelang wafatnya.
Tidak salah apa yang dijadikan judul tulisan oleh Mahfud MD, "baru beberapa hari kita kehilangan Gus Dur, kita sudah sangat kangen".
Begitu banyak yang hilang, pergi bersama wafatnya Gus Dur.
Terima kasih pada Mas Pras yang telah mengingatkan kembali bahwa kita pernah punya "Gus Dur".

Senin, 11 Oktober 2010

Press release - 04 Oktober 2010

Kegiatan Export Peralatan Rumah Sakit oleh PT Mega Andalan Kalasan telah dimulai sejak tahun 2005.
Selama lima tahun terakhir, tujuan export terus berkembang menjadi sekitar 25 negara tujuan export yang tersebar ke negara-negara di Timur Tengah, Afrika, Eropa, Asia Tenggara dan Selandia Baru.
Sedangkan nilai Exportnya telah menembus angka US $ 1 juta sejak tahun 2008 dan ditargetkan tahun 2010 ini akan bisa menembus angka US $ 2 juta.

Pertumbuhan export yang berkesinambungan tersebut menunjukan bahwa selain produk2 yang dihasilkan oleh PT Mega Andalan Kalasan bisa diterima dan disukai oleh konsumen di manca Negara, juga membuktikan bahwa harga produk yang ditawarkan cukup competitive.
Selain itu, dengan telah diterapkannya ISO 9001, ISO 14001, ISO 18001 serta CE marking sejak tahun 2000, produk-produk PT Mega Andalan Kalasan telah dipercaya telah memenuhi standard internasional sehingga aman untuk digunakan oleh konsumen di manca Negara.

Keberhasilan tersebut telah mendorong PT Mega Andalan Kalasan untuk lebih serius menggarap pasar Export sebagai sumber pertumbuhan di masa mendatang.
Mulai tahun ini PT Mega Andalan Kalasan menggarap pasar Amerika Serikat yang merupakan pasar terbesar untuk Peralatan Rumah Sakit di dunia.
Saat ini sedang dilakukan berbagai persiapan terutama yang menyangkut berbagai persyaratan teknis yang diterapkan oleh Food and Drug Administration (FDA) dari Negara yang bersangkutan.

Dengan kapasitas produksi sebesar 40.000 bed per tahun dan mendominasi sekitar 60% pasar dalam negeri , saat ini PT Mega Andalan Kalasan mempersiapkan diri untuk menjadi salah satu pemain dunia di bidang fabrikasi peralatan Rumah Sakit.
Saat ini penjualan Export PT Mega Andalan Kalasan baru mencapai sekitar 10% dari nilai penjualan tahunan.
Dalam 5 tahun mendatang atau tahun 2014 nilai penjualan export akan ditingkatkan menjadi US $ 10 juta atau sekitar 50% dari total penjualan tahunan PT Mega Andalan Kalasan.

Export ke Arab Saudi yang hari ini akan dilepas oleh Bapak Bupati Sleman, Drs Sri Purnomo sebanyak 5 container 40 feet senilai US $ 265.000 bukanlah export perdana.
Tapi peristiwa kali ini kami anggap penting karena selama 3 tahun berturut-turut sejak tahun 2008 kami berhasil memenangkan tender Peralatan Rumah Sakit yang diselenggarakan oleh Pemerintah Arab Saudi untuk mengisi Rumah Sakit baru di kota Jeddah.
Dengan pelepasan export ini kami mohon dukungan doa agar export ke Arab Saudi bisa berkelanjutan dengan nilai yang semakin besar.


Kalasan, 4 Oktober 2010