A creation by design and not by default
Siklus Industri
Penggambaran siklus Industri di bawah ini menjelaskan bahwa baik pengusaha maupun peneliti mempunyai peran dan lingkup kerja yang berbeda dan tidak mungkin untuk dicampur-adukan.
--> Ilmu pengetahuan --> Teknologi --> Industri --> Bisnis --> (kembali ke Ilmu Pengetahuan)
Siklus di atas menggambarkan sebuah proses spiral yang makin membesar, dimana Ilmu Pengetahuan ditransformasikan (didaya-gunakan) menjadi Teknologi (penggunaan praktis) oleh para Peneliti dan kemudian bersama-sama dengan Pengusaha (Industri) ditransformasikan lebih lanjut sehingga layak untuk difabrikasi (Industri) sehingga bisa dikomesialkan menjadi sebuah Bisnis yang selanjutnya, sebagian keuntungannya menjadi feed back untuk mengembangkan Industri dengan Teknologi yang lebih canggih.
Hubungan Lembaga Penelitian dengan Industri
Dari siklus di atas terlihat jelas bahwa hubungan langsung antara Lembaga Penelitian dengan Dunia Industri adalah dalam proses menjadikan sebuah (konsep) Teknologi menjadi sebuah produk yang bernilai komersial.
Dalam proses ini sedikitnya ada 3 tahapan yang harus dilalui, yaitu: 1. pembuatan prototype fungsional, 2. Pembuatan prototype komersial dan akhirnya, 3. Pembuatan prototype produksi.
Kemampuan dan semangat dari masing-masing pihak dalam melalui tahapan-tahapan tersebut akan sangat menentukan apakah komersialisasi sebuah Teknologi (hasil penelitian) dapat diwujudkan.
Sebagus apapun sebuah hasil penelitian tidak akan membawa manfaat ekonomi apabila tidak ada Industri yang mampu dan mau mengkomersialkannya.
Kondisi obyektif di Indonesia
Minimnya pemahaman akan siklus tersebut di atas mengakibatkan hampir seluruh hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian menumpuk dalam bentuk kertas kerja. Hasil penelitian tidak dapat diimplementasikan karena dilakukan tanpa terlebih dahulu meneliti kebutuhan obyektif dari dunia Industri.
Hal lucu yang kerap terjadi adalah sikap para peneliti yang menganggap hasil penelitiannya sebagai harta karun yang bernilai tinggi sehingga mereka cenderung untuk merahasiakannya serta menjaganya dari kemungkinan usaha pencurian oleh para pengusaha Industri.
Sikap seperti itu tentu saja membuat para pengusaha Industri enggan berhubungan dengan Lembaga - lembaga Penelitian. Mereka lebih senang membeli industri secara turn-key pada para provider industri di Jepang, Taiwan, Korea Selatan maupun Cina. Dengan demikian, Siklus industri tidak pernah terbentuk di Indonesia. Mata rantainya terputus, bagian Ilmu Pengetahuan – Teknologi digantikan oleh Industri Provider dari luar negeri.
Peran Dewan Riset
Kondisi terputusnya hubungan antara Lembaga Penelitian dengan Dunia Industri sebetulnya telah disadari sejak lama oleh Pemerintah. Berbagai program Riset yang berdasarkan “link and match” telah dilakukan sejak jaman Orde Baru.
Namun sayangnya keikut-sertaan Industri dalam setiap usulan Riset hanya sebatas pemenuhan persyaratan saja. Dalam prakteknya tidak ada bukti nyata bahwa dunia Industri dilibatkan. Nyatanya hampir tidak ada Industri atau produk (hasil industri) yang dihasilkan dari hasil Riset.
Menyadari kenyataan tersebut Dewan Riset (Nasional maupun Daerah) semestinya bisa berperan sebagai lembaga yang mampu menjadi jembatan ataupun katalisator sehingga memungkinkan terjadinya interaksi positip antara lembaga-lembaga riset dan pengusaha (industri) dalam upaya pengembangan Industri berbasis Iptek.
Senin, 28 Desember 2009
Pembangunan Industri berbasis Riset dan Teknologi (1)
A creation by design and not by default
Sub judul tersebut di atas adalah ungkapan dari Prof. Dr. Koentjaraningrat yang dikutip oleh Jakob Utama dalam bukunya “Bersyukur dan menggugat diri”, yang membahas masalah pembangunan Demokrasi dan Kebudayaan.
Dalam tulisan tersebut dikatakan bahwa sudah saatnya Bangsa Indonesia menyadari perlunya membuat rancangan kehidupan berdemokrasi dan berbudaya berdasarkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dengan tujuan membangun sebuah budaya (kultur) bangsa yang kompetitif. Sehingga tidak sebagaimana apa yang terjadi selama ini, terombang-ambing dalam arus globalisasi, yang pada akhirnya nanti, sebagaimana saat ini, akan kita sadari bahwa selama ini kita jalan di tempat.
Kondisi Industri di Indonesia
Dari pengalaman dan pengamatan penulis yang dalam kurun waktu lebih dari 20 tahun menekuni bidang Industri, penulis melihat jelas bahwa keterombang-ambingan arah gerak pengembangan Industri juga mengalami hal yang kurang-lebih sama.
Industri tidak dibangun dengan perencanaan (by design) berdasarkan kompetensi atau Teknologi yang dikuasai, namun lebih didasarkan pada pertimbangan kebutuhan mendesak sesaat (by default).
Dengan demikian, Industri yang ada di Indonesia sifatnya dangkal dan tidak berakar pada kompetensi (Teknologi) yang semestinya dijadikan dasar pembangunan sebuah Industri. Industri semacam itu tidak kompetitif sehingga memerlukan proteksi yang terus-mnerus karena sulit bersaing dengan Industri sejenis dari negara lain, terutama dalam era globalisasi saat ini.
Melihat keadaan tersebut di atas, penulis berpendapat bahwa sudah saatnya kita memikirkan pengembangan Industri yang dibangun berdasar pada Teknologi yang kita kembangkan sendiri dengan mempertimbangkan kompetensi dan kebutuhan nyata dalam Dunia Industri.
Namun demikian, menyadari kondisi masyarakat Indonesia saat ini, kita tidak mungkin mengharapkan Dunia Industri bisa mengembangkan sendiri Teknologi tersebut karena kemampuan Dunia Industri dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IpTek) sangatlah terbatas.
Peran Lembaga Penelitian
Salah satu lembaga yang semestinya dapat berperan besar dalam pembangunan Industri yang berbasis pada Iptek adalah lembaga-lembaga penelitian yang sudah ada tersebar di seantero tanah air, baik yang ada di bawah naungan Perguruan Tinggi, LIPI maupun Menristek.
Dari pengalaman dan pengamatan penulis dalam membangun hubungan dengan lembaga-lembaga Riset dan beberapa Perguruan Tinggi sejak tahun 1998 terdapat banyak sekali kendala yang dihadapi.
Salah satu kendala yang paling mendasar adalah tidak adanya pemahaman tentang sebuah siklus Industri, sehingga masing-masing pihak (peneliti dan pengusaha) tidak memahami peran dan domain (lingkup kerja) masing-masing sehingga sulit sekali terjadi sebuah sinergy.
Sub judul tersebut di atas adalah ungkapan dari Prof. Dr. Koentjaraningrat yang dikutip oleh Jakob Utama dalam bukunya “Bersyukur dan menggugat diri”, yang membahas masalah pembangunan Demokrasi dan Kebudayaan.
Dalam tulisan tersebut dikatakan bahwa sudah saatnya Bangsa Indonesia menyadari perlunya membuat rancangan kehidupan berdemokrasi dan berbudaya berdasarkan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dengan tujuan membangun sebuah budaya (kultur) bangsa yang kompetitif. Sehingga tidak sebagaimana apa yang terjadi selama ini, terombang-ambing dalam arus globalisasi, yang pada akhirnya nanti, sebagaimana saat ini, akan kita sadari bahwa selama ini kita jalan di tempat.
Kondisi Industri di Indonesia
Dari pengalaman dan pengamatan penulis yang dalam kurun waktu lebih dari 20 tahun menekuni bidang Industri, penulis melihat jelas bahwa keterombang-ambingan arah gerak pengembangan Industri juga mengalami hal yang kurang-lebih sama.
Industri tidak dibangun dengan perencanaan (by design) berdasarkan kompetensi atau Teknologi yang dikuasai, namun lebih didasarkan pada pertimbangan kebutuhan mendesak sesaat (by default).
Dengan demikian, Industri yang ada di Indonesia sifatnya dangkal dan tidak berakar pada kompetensi (Teknologi) yang semestinya dijadikan dasar pembangunan sebuah Industri. Industri semacam itu tidak kompetitif sehingga memerlukan proteksi yang terus-mnerus karena sulit bersaing dengan Industri sejenis dari negara lain, terutama dalam era globalisasi saat ini.
Melihat keadaan tersebut di atas, penulis berpendapat bahwa sudah saatnya kita memikirkan pengembangan Industri yang dibangun berdasar pada Teknologi yang kita kembangkan sendiri dengan mempertimbangkan kompetensi dan kebutuhan nyata dalam Dunia Industri.
Namun demikian, menyadari kondisi masyarakat Indonesia saat ini, kita tidak mungkin mengharapkan Dunia Industri bisa mengembangkan sendiri Teknologi tersebut karena kemampuan Dunia Industri dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IpTek) sangatlah terbatas.
Peran Lembaga Penelitian
Salah satu lembaga yang semestinya dapat berperan besar dalam pembangunan Industri yang berbasis pada Iptek adalah lembaga-lembaga penelitian yang sudah ada tersebar di seantero tanah air, baik yang ada di bawah naungan Perguruan Tinggi, LIPI maupun Menristek.
Dari pengalaman dan pengamatan penulis dalam membangun hubungan dengan lembaga-lembaga Riset dan beberapa Perguruan Tinggi sejak tahun 1998 terdapat banyak sekali kendala yang dihadapi.
Salah satu kendala yang paling mendasar adalah tidak adanya pemahaman tentang sebuah siklus Industri, sehingga masing-masing pihak (peneliti dan pengusaha) tidak memahami peran dan domain (lingkup kerja) masing-masing sehingga sulit sekali terjadi sebuah sinergy.
Rabu, 11 November 2009
Motor Nasional
Press Release
Setelah melalui perjalanan panjang selama 5 (lima) tahun sejak PT Mega Andalan Motor Industri (PT MAMI) didirikan pada tahun 2004, akhirnya pada hari ini, tanggal 10 Nopember 2009 bertepatan dengan hari Pahlawan, PT MAMI meluncurkan produksi perdananya.
Dengan menggunakan merk MAK (Motor Andalan Kita), PT MAMI meluncurkan 2 varian model motor bebek, Vipros-125 (125 cc) dan Vipros 100 (100 cc). Masing-masing dipatok dengan harga Rp 9.900.000 dan Rp 9.450.000,-
Selama 1 (satu) tahun sejak soft launching pada Oktober 2008, PT MAMI bekerja keras melakukan “test drive” untuk penyempurnaan teknis sehingga akhirnya dihasilkan “motor dengan kwalitas yang dapat dipertanggung jawabkan dan harga yang terjangkau oleh masyarakat”.
Pada peluncuran perdana ini, motor MAK telah dipesan sebanyak 75 unit yang penyerahannya akan dilakukan pada bulan Desember 2009.
Untuk menjamin kepuasan pelanggan, PT MAMI telah membangun Factory Outlet yang diberi nama MAMI-FO, yang merupakan Pusat Penjualan terpadu, meliputi:
- Ruang pamer untuk motor dan pernak-pernik “motor-bikers life style”
- Sales counter
- Bengkel modern yang dilengkapi dengan Test-bench
- Safety Riding track
Bersamaan dengan peluncuran perdana motor MAK, pada hari ini diresmikan pembukaan MAMI-FO yang pertama di Jalan Solo Km 12.
Selanjutnya, untuk mendukung tercapainya target penjualan sebanyak 5.000 unit pada tahun 2010 serta untuk memberikan pelayanan yang menjamin kepuasan pelanggan di Daerah Istimewa Yogyakarta, MAMI-FO akan dibangun di Sleman, Bantul, Gunung Kidul dan Kulon Progo.
Dengan peluncuran motor MAK, PT MAMI yang berlokasi di Jalan Prambanan-Piyungan Km 5 membuktikan bahwa Bangsa Indonesia mampu menghasilkan Motor Nasional yang diharapkan kelak, tentunya dengan dukungan seluruh Bangsa Indonesia, dapat menjadi kebanggan bagi Bangsa Indonesia.
PT MAMI adalah anak perusahaan dari PT Mega Andalan Kalasan (PT MAK), sebuah perusahaan industri Peralatan Rumah Sakit terbesar di Asia Tenggara yang menguasai lebih dari 60% pangsa pasar Peralatan Rumah Sakit nasional dan produknya telah diekspor ke manca negara.
Yogyakarta, 10 Nopember 2009
Setelah melalui perjalanan panjang selama 5 (lima) tahun sejak PT Mega Andalan Motor Industri (PT MAMI) didirikan pada tahun 2004, akhirnya pada hari ini, tanggal 10 Nopember 2009 bertepatan dengan hari Pahlawan, PT MAMI meluncurkan produksi perdananya.
Dengan menggunakan merk MAK (Motor Andalan Kita), PT MAMI meluncurkan 2 varian model motor bebek, Vipros-125 (125 cc) dan Vipros 100 (100 cc). Masing-masing dipatok dengan harga Rp 9.900.000 dan Rp 9.450.000,-
Selama 1 (satu) tahun sejak soft launching pada Oktober 2008, PT MAMI bekerja keras melakukan “test drive” untuk penyempurnaan teknis sehingga akhirnya dihasilkan “motor dengan kwalitas yang dapat dipertanggung jawabkan dan harga yang terjangkau oleh masyarakat”.
Pada peluncuran perdana ini, motor MAK telah dipesan sebanyak 75 unit yang penyerahannya akan dilakukan pada bulan Desember 2009.
Untuk menjamin kepuasan pelanggan, PT MAMI telah membangun Factory Outlet yang diberi nama MAMI-FO, yang merupakan Pusat Penjualan terpadu, meliputi:
- Ruang pamer untuk motor dan pernak-pernik “motor-bikers life style”
- Sales counter
- Bengkel modern yang dilengkapi dengan Test-bench
- Safety Riding track
Bersamaan dengan peluncuran perdana motor MAK, pada hari ini diresmikan pembukaan MAMI-FO yang pertama di Jalan Solo Km 12.
Selanjutnya, untuk mendukung tercapainya target penjualan sebanyak 5.000 unit pada tahun 2010 serta untuk memberikan pelayanan yang menjamin kepuasan pelanggan di Daerah Istimewa Yogyakarta, MAMI-FO akan dibangun di Sleman, Bantul, Gunung Kidul dan Kulon Progo.
Dengan peluncuran motor MAK, PT MAMI yang berlokasi di Jalan Prambanan-Piyungan Km 5 membuktikan bahwa Bangsa Indonesia mampu menghasilkan Motor Nasional yang diharapkan kelak, tentunya dengan dukungan seluruh Bangsa Indonesia, dapat menjadi kebanggan bagi Bangsa Indonesia.
PT MAMI adalah anak perusahaan dari PT Mega Andalan Kalasan (PT MAK), sebuah perusahaan industri Peralatan Rumah Sakit terbesar di Asia Tenggara yang menguasai lebih dari 60% pangsa pasar Peralatan Rumah Sakit nasional dan produknya telah diekspor ke manca negara.
Yogyakarta, 10 Nopember 2009
Sabtu, 05 September 2009
Leadership: Pemimpin yang hebat
Ucapan Colin Powel yang dikutip oleh Oren Harari dalam bukunya "Break from The Pack" sungguh sangat menarik. Dia bilang, "Anda bisa disebut sebagai pemimpin yang baik ketika orang mengikuti Anda hanya karena ingin tahu".
Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa ketika para pemimpin membawa organisasi di jalur yang menarik dan memancing minat, berarti mereka mengundang orang yang tertarik dan terpancing minatnya untuk bergabung, untuk ikut melihat sesuatu terjadi dan atau untuk ikut membuat sesuatu terjadi.
Pemimpin yang baik (hebat) tidak harus mempunyai tujuan yang (menurut nilai moral) "baik". Don Corleone bisa dianggap sebagai Pemimpin yang baik (hebat), bahkan sebagai God Father, walau memimpin mafia.
Sayang, tidak banyak orang bisa melihat atau mengenali para pemimpin hebat. Seringkali justru orang memandangnya dengan sinis atau skeptis. Orang lebih menyenangi pemimpin yang sesuai dengan imajinasinya sendiri. Dan biasanya baru menyesali kekeliruannya setelah dia meninggalkan sang pemimpin hebat.
Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa ketika para pemimpin membawa organisasi di jalur yang menarik dan memancing minat, berarti mereka mengundang orang yang tertarik dan terpancing minatnya untuk bergabung, untuk ikut melihat sesuatu terjadi dan atau untuk ikut membuat sesuatu terjadi.
Pemimpin yang baik (hebat) tidak harus mempunyai tujuan yang (menurut nilai moral) "baik". Don Corleone bisa dianggap sebagai Pemimpin yang baik (hebat), bahkan sebagai God Father, walau memimpin mafia.
Sayang, tidak banyak orang bisa melihat atau mengenali para pemimpin hebat. Seringkali justru orang memandangnya dengan sinis atau skeptis. Orang lebih menyenangi pemimpin yang sesuai dengan imajinasinya sendiri. Dan biasanya baru menyesali kekeliruannya setelah dia meninggalkan sang pemimpin hebat.
Selasa, 01 September 2009
Indonesia goes Industrial Country (2)
4. Saat ini PT MAK menjadi penguasa pasar perlengkapan rumah sakit. Mengapa Anda terjun ke bisnis itu?
Awalnya karena situasi yang mendesak, namun pada perkembangannya industri perlengkapan rumah sakit ternyata adalah industri yang cukup strategis untuk mendukung ketersediaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Bayangkan, setiap tahun Indonesia membelanjakan sekitar Rp10 triliun untuk membeli alat kesehatan dan setiap tahun terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kemampuan ekonomi masyarakat. Sayangnya, hanya 5 persen saja yang dipasok oleh industri dalam negeri. Padahal dari belanja sebesar itu, 80 persen atau sekitar Rp 8 triliun adalah belanja pemerintah.
Jelas terlihat, seandainya ada kemauan politik dari pemerintah, Indonesia punya potensi yang sangat besar untuk menjadi produsen alat kesehatan global. Ini sudah dibuktikan MAK yang mampu memasok sekitar 60 persen kebutuhan furnitur rumah sakit nasional dan sejak 2007 mengekspor produknya ke manca negara, bersaing dengan Jepang, Amerika, Eropa dan Cina.
5. MAK juga memiliki keandalan di industri mekanik. Bisa digambarkan tahapan perkembangan industri mekanik yang Anda pimpin?
Sejak awal, industri yang kami kembangkan bukan berbasis produk tetapi berbasis kompetensi di bidang teknologi mekanik. Produk furnitur rumah-sakit adalah konsekuensi logis dari penguasaan teknologi mekanik pada saat itu.
Prinsipnya, industri berbasis teknologi mekanik pada tingkat yang paling tinggi akan menjadi industri yang disebut sebagai "the mother of all industry" atau industri yang bisa melahirkan industri apapun.
Saat ini, lebih dari 90 persen komponen furnitur rumah-sakit dibuat secara "in-house", sehingga kami berani menyatakan bahwa kami adalah perusahaan manufaktur furnitur rumah-sakit skala internasional yang paling kompetitif.
Industri permesinan dan perlengkapan industri kami kembangkan untuk mengejar produk-produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi dan untuk melahirkan industri-industri baru dengan biaya investasi semurah mungkin.
6. Sejak Oktober 2008 lalu, MAK berniat terjun ke industri motor. Apa pertimbangannya?
Industri otomotif (saat ini sepeda motor) mulai kami kembangkan sejak tahun 2005 bekerja sama dengan produsen dari Cina.
Alasannya, karena secara teknologi kami sudah mampu, juga karena kami perlu mempersiapkan sumber pertumbuhan baru selain furnitur rumah-sakit, dan terakhir karena industri otomotif memiliki nilai strategis yang luar biasa untuk mengembangkan industri di Indonesia.
Ilustrasinya, industri sepeda motor di Indonesia volume pasarnya sekitar Rp60 triliun, spektrum produknya relatif kecil dan pasarnya meluas di seluruh lapisan masyarakat.
Dari segi bisnis, industri sepeda motor sangat atraktif sehingga tidak heran kalau dalam 10 tahun terakhir bermunculan lebih dari 100 industri sepeda motor di Indonesia. Lebih menariknya, hampir semua industri tersebut saat ini sudah mati atau sekarat, tersisa hanya sekitar 5 industri yang masih eksis dan itu pun pangsanya terus menurun dari sekitar 20 persen pada tahun 2000 menjadi hanya kurang dari 5 persen saat ini. 95% pangsa pasar sepeda motor di Indonesia dikuasai oleh produsen Jepang.
7.Dalam buku "Never Ending Journey": Kisah Perjalanan Seorang Entrepreneur. Anda menggagas pembangunan sentra industri untuk masyarakat, dengan membangun Techno-park di Sleman. Apa latar belakang gagasan Anda?
Salah satu syarat agar Indonesia bisa menjadi negara industri adalah tersedianya pelaku-pelaku industri dalam jumlah yang memadai sehingga sektor industri bisa tumbuh mencapai minimum 40 persen dalam struktur PDB.
Pertanyaannya, siapa yang harus melahirkan pelaku-pelaku industri tersebut? Untuk itulah MAK berusaha mengkloning dirinya, yang sampai dengan saat ini telah membuktikan sebagai bibit unggul industri Indonesia.
Harapan saya, keberhasilan kami akan menjadi sumber inspirasi, sehingga terjadi sebuah gerakan "Indonesia goes Industrial Country" secara kolosal, seperti yang terjadi di Cina selama 20 tahun terakhir.
8. Bagaimana peran keluarga dalam mendukung usaha Anda?
Sahabat saya seorang dokter memberi nasehat bahwa "diam" adalah dukungan yang paling besar bagi seorang kepala keluarga. Selama ini istri dan kedua anak saya tidak pernah meributkan yang saya lakukan walau terkadang kontroversial sekalipun.
9. Hobi Anda?
Bekerja dan membaca apa saja antara lain lima koran setiap hari. Saya juga hobi menulis di milis, blog atau facebook. Dan terakhir, jalan-jalan dan main golf.
Awalnya karena situasi yang mendesak, namun pada perkembangannya industri perlengkapan rumah sakit ternyata adalah industri yang cukup strategis untuk mendukung ketersediaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Bayangkan, setiap tahun Indonesia membelanjakan sekitar Rp10 triliun untuk membeli alat kesehatan dan setiap tahun terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kemampuan ekonomi masyarakat. Sayangnya, hanya 5 persen saja yang dipasok oleh industri dalam negeri. Padahal dari belanja sebesar itu, 80 persen atau sekitar Rp 8 triliun adalah belanja pemerintah.
Jelas terlihat, seandainya ada kemauan politik dari pemerintah, Indonesia punya potensi yang sangat besar untuk menjadi produsen alat kesehatan global. Ini sudah dibuktikan MAK yang mampu memasok sekitar 60 persen kebutuhan furnitur rumah sakit nasional dan sejak 2007 mengekspor produknya ke manca negara, bersaing dengan Jepang, Amerika, Eropa dan Cina.
5. MAK juga memiliki keandalan di industri mekanik. Bisa digambarkan tahapan perkembangan industri mekanik yang Anda pimpin?
Sejak awal, industri yang kami kembangkan bukan berbasis produk tetapi berbasis kompetensi di bidang teknologi mekanik. Produk furnitur rumah-sakit adalah konsekuensi logis dari penguasaan teknologi mekanik pada saat itu.
Prinsipnya, industri berbasis teknologi mekanik pada tingkat yang paling tinggi akan menjadi industri yang disebut sebagai "the mother of all industry" atau industri yang bisa melahirkan industri apapun.
Saat ini, lebih dari 90 persen komponen furnitur rumah-sakit dibuat secara "in-house", sehingga kami berani menyatakan bahwa kami adalah perusahaan manufaktur furnitur rumah-sakit skala internasional yang paling kompetitif.
Industri permesinan dan perlengkapan industri kami kembangkan untuk mengejar produk-produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi dan untuk melahirkan industri-industri baru dengan biaya investasi semurah mungkin.
6. Sejak Oktober 2008 lalu, MAK berniat terjun ke industri motor. Apa pertimbangannya?
Industri otomotif (saat ini sepeda motor) mulai kami kembangkan sejak tahun 2005 bekerja sama dengan produsen dari Cina.
Alasannya, karena secara teknologi kami sudah mampu, juga karena kami perlu mempersiapkan sumber pertumbuhan baru selain furnitur rumah-sakit, dan terakhir karena industri otomotif memiliki nilai strategis yang luar biasa untuk mengembangkan industri di Indonesia.
Ilustrasinya, industri sepeda motor di Indonesia volume pasarnya sekitar Rp60 triliun, spektrum produknya relatif kecil dan pasarnya meluas di seluruh lapisan masyarakat.
Dari segi bisnis, industri sepeda motor sangat atraktif sehingga tidak heran kalau dalam 10 tahun terakhir bermunculan lebih dari 100 industri sepeda motor di Indonesia. Lebih menariknya, hampir semua industri tersebut saat ini sudah mati atau sekarat, tersisa hanya sekitar 5 industri yang masih eksis dan itu pun pangsanya terus menurun dari sekitar 20 persen pada tahun 2000 menjadi hanya kurang dari 5 persen saat ini. 95% pangsa pasar sepeda motor di Indonesia dikuasai oleh produsen Jepang.
7.Dalam buku "Never Ending Journey": Kisah Perjalanan Seorang Entrepreneur. Anda menggagas pembangunan sentra industri untuk masyarakat, dengan membangun Techno-park di Sleman. Apa latar belakang gagasan Anda?
Salah satu syarat agar Indonesia bisa menjadi negara industri adalah tersedianya pelaku-pelaku industri dalam jumlah yang memadai sehingga sektor industri bisa tumbuh mencapai minimum 40 persen dalam struktur PDB.
Pertanyaannya, siapa yang harus melahirkan pelaku-pelaku industri tersebut? Untuk itulah MAK berusaha mengkloning dirinya, yang sampai dengan saat ini telah membuktikan sebagai bibit unggul industri Indonesia.
Harapan saya, keberhasilan kami akan menjadi sumber inspirasi, sehingga terjadi sebuah gerakan "Indonesia goes Industrial Country" secara kolosal, seperti yang terjadi di Cina selama 20 tahun terakhir.
8. Bagaimana peran keluarga dalam mendukung usaha Anda?
Sahabat saya seorang dokter memberi nasehat bahwa "diam" adalah dukungan yang paling besar bagi seorang kepala keluarga. Selama ini istri dan kedua anak saya tidak pernah meributkan yang saya lakukan walau terkadang kontroversial sekalipun.
9. Hobi Anda?
Bekerja dan membaca apa saja antara lain lima koran setiap hari. Saya juga hobi menulis di milis, blog atau facebook. Dan terakhir, jalan-jalan dan main golf.
Langgan:
Entri (Atom)
