Selasa, 03 Maret 2009

Membangun Industri berbasis Iptek (1)

Selama ini Bangsa Indonesia masih berpikir bahwa Teknologi dikuasai oleh negara maju (Amerika, Jepang dan Eropa) sehingga untuk membangun industri kita perlu mendatangkan (membeli) teknologi atau mengundang investor asing dengan harapan terjadi transfer teknologi.

Sayang, setelah 40 tahun ternyata Industri yang dibeli tidak bisa menjadi benih yang subur karena pada kenyataannya industri tidak berkembang biak. Demikian juga halnya dengan harapan terjadinya transfer teknologi, kenyataannya jauh panggang dari api.

Kebangkitan Taiwan, Korea Selatan, Cina dan terakhir India tidak juga menyadarkan Bangsa Indonesia bahwa persepsi tersebut di atas tidak benar. karena nyata-nyata di negara-negara tersebut, industri berbasis Iptek bisa berkembang-biak dengan subur sehingga bisa menjadi soko-guru ekonomi.

Kegagalan di Indonesia dan keberhasilan di Taiwan, Korea Selatan, Cina dan India membenarkan sebuah hipotesa yang mengatakan bahwa Industri semesti adalah menjadi satu mata rantai dari siklus tertutup dari: Ilmu Pengetahuan --> Teknologi --> Industri --> Bisnis (ITIB).
Hipotesa tersebut dikutip dari sebuah esai yang ditulis oleh Y.B Mangun Wijaya (Romo Mangun).
Jadi apabila kita mempunyai obsesi membangun Industri berbasis Iptek, sudah semestinya kita berupaya agar rangkaian siklus ITIB terbentuk.

Ekspor Indonesia turun 36%

Akhirnya kemarin BPS mengumumkan ekspor Indonesia pada bulan Januari 2009 turun sebesar 36,08% terhadap Januari 2008 atau turun 17,7% terhadap Desember 2008.
Pengumuman ini memang ditunggu-tunggu setelah Jepang dan China mengumumkan penurunan ekspornya masing-masing sebesar 45% dan 17%.
Karena porsi ekspor adalah sebesar 25% dalam pembentukan PDB indonesia, maka pengaruh penurunan ini akan berdampak pada penurunan konsumsi (daya beli) domestik sebesar kira-kira 10% sehingga secara agregat ekonomi Indonesia berkontraksi sebesar kira-kira 15 - 16,5% terhadap Januari 2008.

Fakta tersebut perlu dicermati dengan seksama karena cepat atau lambat akan mempengaruhi aspek ekonomi (penghasilan dan oportunity)masyarakat yang pada gilirannya akan merambat ke aspek-aspek lainnya.
Masyarakat perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi terburuk yang mungkin terjadi karena angka-angka tersebut masih akan terus memburuk.

Sayang sampai dengan saat ini pemerintah masih 'ja-im' dengan bersikap optimis, padahal semestinya pemerintah mengingatkan masyarakat seraya mengajak masyarakat untuk bersama-sama menghadapi krisis yang jelas-jelas telah mulai melanda Indonesia.

Senin, 02 Maret 2009

Ka'adal faqru na ya suna qufron

Mohon maaf kalau tulisannya kurang tepat. Sebenarnya saya mau nulis langsung pakai bahasa Arabnya tapi karena komputer saya belum di set-up untuk aksara Arab jadi di Indonesiakan. Tapi yang penting esensinya tidak hilang, keadaan fakir menjadikan orang menjadi kufur.

Kalimat tersebut baru saja ditulis oleh Rina Suci di wall face book saya.
Langsung pikiran saya teringat bahwa kalimat tersebut pertama kali saya baca pada sekitar tahun 1995 di harian Republika (kalau tidak salah) dalam kolom Basofi Sudirman yang kala itu menjabat Gubernur Jawa Timur.
Saya membacanya di pesawat Garuda dalam perjalanan Jakarta - Yogya dan langsung memberikan inspirasi bagi saya yang sedang memikirkan bagaimana caranya mengusahakan SDM yang dapat dipercaya (jujur). Ternyata sangat mudah, hanya dengan membuat mereka lepas dari ke'fakir'an maka kita bisa berharap orang menjadi takut kepada Tuhannya.

Sesampainya di kantor langsung saya gelar rapat dan saya tugaskan kepala HRD untuk meluncurkan semacam 'inpres karyawan tertinggal' (pada saat itu Pak Harto sedang menggalakan Inpres desa tertinggal).
Hasilnya?..luar biasa!!. Walaupun karyawan terus bertambah management tidak direpotkan untuk melakukan pengawasan. Sampai-sampai management bahkan tidak perlu melakukan pencatatan apapun karena bisa berasumsi bahwa semua orang (karyawan) baik adanya, tidak ada yang menyalah-gunakan jabatannya.

Suatu kiat penghematan biaya yang luar biasa yang pada gilirannya dapat digunakan untuk memperbaiki tingkat pendapatan karyawan serta tercapainya sebuah struktur organisasi yang 'agile'.

Dengan sedikit menggali, ditemukan berlian yang sebetulnya terpendam tepat di bawah kita berdiri. Diperlukan kesadaran untuk bisa mendaya-gunakan banyak hal yang pada hakekatnya telah kita miliki.