Tekad saya untuk tidak mencuri informasi dari pesaing dengan cara yang tidak sah ternyata tidak mudah untuk dilaksanakan.
Tantangan paling besar datang sekitar akhir tahun 80-an.
Sebagai pelaku industri pemula, selain tidak mempunyai kemampuan teknis untuk menciptakan produk sendiri, modal perusahaa pun sangat terbatas.
Saat memulai industri Peralatan Rumah Sakit (Hospital Furniture), kami menempuh jalan pintas. Tanpa pikir panjang, kami meniru (copy cat) mentah-mentah barang yang dibuat oleh produsen yang sudah ada.
Pada saat itu ATMI (Akademi Teknik Mesin Industri) - Solo adalah produsen utama Peralatan Rumah Sakit di Indonesia. Dan secara kebetulan 4 orang dari 6 orang pendiri perusahaan adalah alumni ATMI.
Dengan demikian bisa dibayangkan betapa mudahnya kami "mencuri" teknik pembuatan Peralatan Rumah Sakit yang notabene adalah produk yang selama mereka kuliah di ATMI adalah obyek kerja sehari-hari.
Pada awalnya ATMI tidak ambil pusing dengan tingkah alumninya tersebut. Mungkin karena mereka tahu bahwa dengan peralatan yang terbatas dan modal kecil, tidak mungkin kami mampu bersaing dengan mereka. Malahan mereka (mungkin secara tidak sadar) ikut membantu kami dengan bersedia menerima order dari beberapa bagian (suku cadang) yang belum dapat kami buat sendiri karena keterbatasan peralatan yang kami miliki.
Sampai suatu saat, kami mengalahkan ATMI dalam suatu Tender Pengadaan Peralatan Rumah Sakit pada satu instansi pemerintah. Tentu saja ATMI marah besar dan langsung kami diembargo secara total.
Saat mengetahui hal itu saya langsung teringat pada Cohen-Lindenbaum Arest.
Sungguh saya sangat menyesal dan malu atas perbuatan "kotor" yang telah kami lakukan tersebut. Hati nurani saya tetap tidak bisa menerima argumen bahwa perbuatan tersebut adalah wajar dilakukan oleh para pemula.
Penyesalan ini kami wujudkan dengan segera memulai melakukan rekayasa untuk membuat produk yang berbeda dengan produk ATMI.
Kalau saja saat itu kami tidak menyesal atau bahkan menepuk dada, bangga karena bisa mengalahkan ATMI maka mungkin ceritanya akan lain. Mungkin kami akan menjadi kerdil dibawah bayang-bayang ATMII.
Peristiwa di atas memberikan banyak pelajaran penting, diantaranya:
1. Betapa sulitnya memulai suatu usaha bagi para pemula.
2. Penyesalan membawa kita ke "jalan yang benar".
3. Tidak perlu menjadi berang bila ada orang yang meniru produk kita.
4. Pentingnya "continuos improvement" agar selalu beberapa langkah di depan.
5. Selalu sadar diri dan dengarkan kata hati nurani.
Blog ini berisi pemikiran Buntoro dalam menyikapi berbagai perkembangan aktual dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya di tanah air. Sikap (pola pikir dan pola tindak) yang tepat akan sangat menentukan tercapainya sebuah cita2.
Minggu, 19 April 2009
Entrepreneur : (My) Character is (my) destiny (3)
Pertanyaan yang seringkali timbul sehubungaan dengan karakter adalah. bila manakah karakter seseorang terbentuk?. Apakah karakter seseorang sudah ada sejak lahir?. Apakah bintang menentukan karakter seseorang?....seberapa jauh pengalaman hidup berpengaruh dalam membentuk karakter?...dan seterusnya....dan seterusnya.
Tulisan berikut tidak ditujukan untuk menjawab pertanyaan tersebut, karena akan menimbulkan polemik yang berkepanjangan.
Dalam serial Entrepreneur: To see the unseen, saya telah menceritakan bagaimana karakter dasar seseorang terbentuk. Pengalaman semasa kecil dan remaja telah memberikan warna dasar karakter seseorang.
Berikut ini saya akan menceritakan beberapa pelajaran dan pengalaman hidup yang begitu melekat sehingga membentuk gambar mozaik karakter seorang.
Walaupun kuliah di jurusan Elektro, namun saya sangat serius mengikuti mata kuliah yang sama sekali tidak berhubungan dengan ke-teknik-an.
Salah satu mata kuliah yang sangat saya nikmati adalah kuliah "Pengantar Ilmu Hukum" (PIH). Sampai sekarang (setelah lewat 35 tahun) saya masih ingat hampir semua pelajaran tersebut.
Salah satu topik kuliah yang sangat membekas adalah soal hukum kepatutan. Dosen PIH memberikan 2 buah contoh kasus untuk menjelaskan hukum ini. Yang pertama adalah Cohen - Lindenbaum Arest dan yang kedua adalah perkara cerobong asap palsu.
Dalam kasus pertama diceritakan bahwa Cohen adalah karyawan Lindenbaum yang mengundurkan diri dan kemudian bekerja pada saingan Lindenbaum. Dengan berlalunya waktu, Lindenbaum mengetahui bahwa Cohen telah membocorkan rahasia mereka pada tempat kerjanya yang baru. Karena merasa dirugikan, Lindenbaum menunutut Cohen di Pengadilan.
Perbuatan Cohen tersebut tidak melanggar hukum positip manapun. Tetapi hakim memutuskan Cohen bersalah karena telah melanggar hukum kepatutan. Akhirnya hakim membuat yurisprudensi dengan menetapkan bahwa Cohen bersalah dan menghukumnya.
Pelajaran ini sangat membekas dan selalu menjadi peringatan bagi saya untuk tidak melakukan pencurian informasi baik dari pengusaha lain maupun pesaing dengan cara yang tidak sah.
Selain itu juga memperingatkan saya untuk tidak menyalah-gunakan kedudukan (fasilitas ataupun kepercayaan) untuk tujuan apapun yang mungkin bisa merugikan mitra atau orang yang telah memberikan kepercayaan pada saya.
Pelajaran tersebut juga telah memberikan inspirasi bahwa ada banyak hal yang tidak terjangkau oleh hukum positip. Hanya dengan mengembangkan wisdom (kesadaran diri) dan hati nurani saja maka seorang wira usaha bisa menjadi seorang entrepreneur.
Tulisan berikut tidak ditujukan untuk menjawab pertanyaan tersebut, karena akan menimbulkan polemik yang berkepanjangan.
Dalam serial Entrepreneur: To see the unseen, saya telah menceritakan bagaimana karakter dasar seseorang terbentuk. Pengalaman semasa kecil dan remaja telah memberikan warna dasar karakter seseorang.
Berikut ini saya akan menceritakan beberapa pelajaran dan pengalaman hidup yang begitu melekat sehingga membentuk gambar mozaik karakter seorang.
Walaupun kuliah di jurusan Elektro, namun saya sangat serius mengikuti mata kuliah yang sama sekali tidak berhubungan dengan ke-teknik-an.
Salah satu mata kuliah yang sangat saya nikmati adalah kuliah "Pengantar Ilmu Hukum" (PIH). Sampai sekarang (setelah lewat 35 tahun) saya masih ingat hampir semua pelajaran tersebut.
Salah satu topik kuliah yang sangat membekas adalah soal hukum kepatutan. Dosen PIH memberikan 2 buah contoh kasus untuk menjelaskan hukum ini. Yang pertama adalah Cohen - Lindenbaum Arest dan yang kedua adalah perkara cerobong asap palsu.
Dalam kasus pertama diceritakan bahwa Cohen adalah karyawan Lindenbaum yang mengundurkan diri dan kemudian bekerja pada saingan Lindenbaum. Dengan berlalunya waktu, Lindenbaum mengetahui bahwa Cohen telah membocorkan rahasia mereka pada tempat kerjanya yang baru. Karena merasa dirugikan, Lindenbaum menunutut Cohen di Pengadilan.
Perbuatan Cohen tersebut tidak melanggar hukum positip manapun. Tetapi hakim memutuskan Cohen bersalah karena telah melanggar hukum kepatutan. Akhirnya hakim membuat yurisprudensi dengan menetapkan bahwa Cohen bersalah dan menghukumnya.
Pelajaran ini sangat membekas dan selalu menjadi peringatan bagi saya untuk tidak melakukan pencurian informasi baik dari pengusaha lain maupun pesaing dengan cara yang tidak sah.
Selain itu juga memperingatkan saya untuk tidak menyalah-gunakan kedudukan (fasilitas ataupun kepercayaan) untuk tujuan apapun yang mungkin bisa merugikan mitra atau orang yang telah memberikan kepercayaan pada saya.
Pelajaran tersebut juga telah memberikan inspirasi bahwa ada banyak hal yang tidak terjangkau oleh hukum positip. Hanya dengan mengembangkan wisdom (kesadaran diri) dan hati nurani saja maka seorang wira usaha bisa menjadi seorang entrepreneur.
Minggu, 12 April 2009
Entrepreneur : (My) Character is (my) destiny (2)
Karakter (sifat) hemat, rajin bekerja, rajin belajar dan disiplin, sebagaimana yang diuraikan dalam serial tulisan "To see the unseen", pada dasarnya dimiliki oleh hampir semua orang.
Tidak peduli apakah dia seorang karyawan swasta, pegawai negeri sipil, tentara, polisi ataupun wira-usahawan; mereka semua memerlukan karakter dasar tersebut agar bisa menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya.
Namun kalau kita cermati lebih lanjut, walaupun mungkin memiliki karakter dasar yang sama, tidak semua tentara atau polisi bisa menjadi jenderal, tidak semua karyawan swasta ataupun pegawai negeri sipil bisa meniti karir hingga mencapai puncak (eselon 1 atau direktur). Diperlukan karakter seoarang jenderal dan direktur untuk mencapai puncak.
Demikian juga dengan para wira-usahawan, tidak semua mempunyai karakter entreprenur yang sangat diperlukan untuk dijadikan sebagai landasan bagi upaya-upaya mewujudkan visi usahanya.
Berbeda dengan profesi lain yang mempunyai struktur organisasi yang jelas, wira-usaha selain tidak mempunyai struktur yang jelas juga tidak ada batasnya (sky is the limit).
Sebagai contoh, 40 tahun yang lalu founding father Bakmi GM masih berjualan bakmi dengan gerobag dorong yang mangkal di daerah sekitar Jalan Gajah Mada, dengan total penjualan kira-kira sebesar Rp 100 j/tahun (nilai saat ini). Tetapi sekarang dengan lebih dari 10 outlet di mall=mall, penjualannya sudah lebih dari Rp 100 M/tahun.
Sebaliknya, ironis dengan keberhasilan Bakmi GM, kalau kita perhatikan keadaan di sekeliling kita, ada ribuan tukang bakmi yang telah bertahun-tahun menjalankan usahanya, sebagaimana founding father Bakmi GM, tetapi tetap saja tidak banyak berubah alias masih setia dengan gerobag dorongnya. Stagnan?.
Contoh tersebut, memberikan penjelasan bahwa diperlukan karakter entrepreneur untuk membangun sebuah usaha (besar).
Karakter entrepreneur ini hanya bisa didapat dari akumulasi pengalaman seorang wira-usaha dalam menjalankan usahanya, yang kemudian dijadikan sebagai pelajaran bagi dirinya dan kemudian secara berkelanjutan menggunakannya sehingga menjadi karakter yang melekat dalam dirinya dalam menjalankan (mengembangkan) usaha selanjutnya.
Karakter entrepreneur tidak mungkin dipelajari di bangku kuliah. So, let's do it....than we will get it....
Tidak peduli apakah dia seorang karyawan swasta, pegawai negeri sipil, tentara, polisi ataupun wira-usahawan; mereka semua memerlukan karakter dasar tersebut agar bisa menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya.
Namun kalau kita cermati lebih lanjut, walaupun mungkin memiliki karakter dasar yang sama, tidak semua tentara atau polisi bisa menjadi jenderal, tidak semua karyawan swasta ataupun pegawai negeri sipil bisa meniti karir hingga mencapai puncak (eselon 1 atau direktur). Diperlukan karakter seoarang jenderal dan direktur untuk mencapai puncak.
Demikian juga dengan para wira-usahawan, tidak semua mempunyai karakter entreprenur yang sangat diperlukan untuk dijadikan sebagai landasan bagi upaya-upaya mewujudkan visi usahanya.
Berbeda dengan profesi lain yang mempunyai struktur organisasi yang jelas, wira-usaha selain tidak mempunyai struktur yang jelas juga tidak ada batasnya (sky is the limit).
Sebagai contoh, 40 tahun yang lalu founding father Bakmi GM masih berjualan bakmi dengan gerobag dorong yang mangkal di daerah sekitar Jalan Gajah Mada, dengan total penjualan kira-kira sebesar Rp 100 j/tahun (nilai saat ini). Tetapi sekarang dengan lebih dari 10 outlet di mall=mall, penjualannya sudah lebih dari Rp 100 M/tahun.
Sebaliknya, ironis dengan keberhasilan Bakmi GM, kalau kita perhatikan keadaan di sekeliling kita, ada ribuan tukang bakmi yang telah bertahun-tahun menjalankan usahanya, sebagaimana founding father Bakmi GM, tetapi tetap saja tidak banyak berubah alias masih setia dengan gerobag dorongnya. Stagnan?.
Contoh tersebut, memberikan penjelasan bahwa diperlukan karakter entrepreneur untuk membangun sebuah usaha (besar).
Karakter entrepreneur ini hanya bisa didapat dari akumulasi pengalaman seorang wira-usaha dalam menjalankan usahanya, yang kemudian dijadikan sebagai pelajaran bagi dirinya dan kemudian secara berkelanjutan menggunakannya sehingga menjadi karakter yang melekat dalam dirinya dalam menjalankan (mengembangkan) usaha selanjutnya.
Karakter entrepreneur tidak mungkin dipelajari di bangku kuliah. So, let's do it....than we will get it....
Langganan:
Postingan (Atom)